ABU AYYUB AL ANSHARY


Sedikit perkongsian yang ingin Hamba kongsikan hasil daripada pembacaan Hamba ini iaitu mengenai seorang pahlawan Islam lebih dikenali dengan nama ABU AYYUB AL ANSHARY ataupun nama sebenarnya :KHALID BIN ZAID BIN KULAIB dari Bani Najjar. Gelarnya Abu Ayyuh, dan golongan Anshar. Siapakah di antara kaum muslimin yang belum mengenal Abu Ayyub Al Anshary?
Nama dan kedudukannya dimuliakan Allah di kalangan makhluk, baik di Timur mahupun di Barat. Kerana sesungguhnya Allah telah memilih rumahnya di antara sekalian rumah kaum muslimin, untuk dijadikan sebagai tempat tinggal Nabi-Nya yang mulia, ketika beliau baru tiba di Madinah sebagai Muhajir. Hal ini cukup membanggakan bagi Abu Ayyub.
Bertempatnya Rasulullah di rumah Abu Ayyub merupakan kisah manis untuk diulang-ulang dan enak untuk dikenang-kenang.
Setibanya Rasulullah di Madinah, beliau disambut dengan hati terbuka oleh seluruh penduduk, beliau dialu-alukan dengan kemuliaan yang belum pernah diterima sebagai seorang tetamu atau utusan manapun. Seluruh mata tertuju kepada beliau memancarkan kerinduan seorang kekasih kepada kekasihnya yang baru tiba. Mereka membuka hati lebar-lebar untuk menerima kasih sayang Rasulullah. Mereka buka pula pintu rumah masing-masing, supaya kekasih mulia yang dirindukan itu sudi bertempat tinggal di rumah mereka.
Sebelum sampai di kota Madinah, beliau berhenti lebih dahulu di Quba selama beberapa hari. Di kampung itu beliau membangun masjid yang pertama-tama didirikan atas dasar taqwa. Sesudah itu beliau meneruskan perjalanan ke kota Yatsrib dengan menunggang unta. Para pemimpin Yatsrib berdiri sepanjang jalan yang akan dilalui beliau untuk kedatangannya. Masing-masing berebut meminta Rasulullah tinggal di rumahnya. Kerana itu Sayyid demi Sayyid menghadang dan memegang tali untuk beliau untuk membawanya ke rumah rnereka.
“Ya, Rasulullah! Sudilah Anda tinggal di rumah saya selama engkau inginkan keadaan dan keamanan engkau sudah pasti terjamin sepenuhnya.” kata mereka berharap.
Jawab Rasulullah, “Bi├árkanlah unta itu berjalan ke mana dia mahu, kerana dia sudah mendapat perintah.”
Unta Rasulullah terus berjalan. diikuti semua mata, dan diharap-harapkan seluruh hati. Bila untuk melewati sebuah rumah, terdengar keluhan putus asa pemiliknya, karena apa yang diangan-angankannya ternyata hampa.
Unta terus berjalan melenggang seenaknya. Orang banyak mengiringi di belakang. Mereka ingin tahu siapa yang beruntung rumahnya didiami oleh tetamu dan kekasih yang mulia ini.
Sampai di sebuah lapangan, yaitu di muka halaman rumah Abu Ayyub Al Anshary unta itu berlutut. Rasulullah tidak segera turun dan punggung unta. Unta itu disuruhnya berdiri dan berjalan kembali. Tetapi setelah berkeliling-keliling, untuk berlutut kembali di tempat semula.
Abu Ayyub mengucapkan takbir karena sangat gembira. Dia segera mendekati Rasulullah dan melapangkan jalan bagi beliau. Diangkatnya barang-barang beliau dengan kedua tangannya, bagaikan mengangkat seluruh perbendaharaan dunia. Lalu dibawanya ke rumahnya
Rumah Abu Ayyub bertingkat tingkat atas dikosongkan dan dibersihkannya untuk tempat tinggal Rasulullah. Tetapi Rasuluulah lebih suka tinggal di bawah. Abu Ayyub menurut saja di mana beliau senang. Setelah malam tiba, Rasulullah masuk ke kamar tidur. Abu Ayyub dan isterinya naik ke tingkat atas. Ketika suami isteri itu menutupkan pintu, Abu Ayyub berkata kepada isterinya, “Celaka....! Mengapa kita sebodoh ini. Pantas kah Rasulullab bertempat di bawah, sedangkan kita berada lebib tinggi dari beliau” Pantaskah kita berjalan di atas beliau?
Kedua suami isteri itu bingung, tidak tahu apa yang harus diperbuat Tidak berapa lama berdiam diri, akhirnya mereka memilih kamar yang tidak setentang dengan kamar Rasulullah Mereka berjalan benjingkit.jingkit untuk menghindarkan suara telapak kaki mereka. Setelah hari Subuh, Abu Ayyub berkata kepada Rasulullah ‘ kami tidak mahu terpejam sepicing pun malam ini. Baik aku maupun ibu Ayyub”
“Mengapa begitu?” tanya Rasulullah
“Aku ingat, kami berada di atas sedangkan Rasulullah Yang kami muliakan berada di bawah. Apabila bergerak sedikit saja, abu berjatuhan mengenai Rasulullah. Di samping itu kami mengalingi Rasulullah dengan wahyu,” kata Abu Ayyub menjelaskan “Tenang sajalah, hai Abu Ayyub. Saya lebih suka bertempat tinggal di bawah, karena akan banyak tamu yang datang berkunjung.”
Kata Abu Ayyub, “Akhirnya saya mengikuti kemauan Rasulullah. Pada suatu malam yang dingin, bejana kami pecah di tingkat atas, sehingga airnya tumpah. Kain lap hanya ada sehelai, karena itu air yang kami keringkan dengan baju, kami sangat kuatir kalau air mengalir ke ternpat Rasulullah. Saya dan Ibu Ayyub bekerja keras mengering kan air sampai habis. Setelah hari Subuh saya pergi menemui Rasulullah.
Saya berkata kepada beliau, “Sungguh mati, saya segan bertempat tinggal di atas, sedangkan Rasulullah tinggal di bawah”.
Kemudian Abu Ayyub menceritakan kepada beliau perihal bejana yang pecah itu. Karena itu Rasulullah memperkenankan kami pindah ke bawah dan beliau pindah ke atas.
Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub kurang lebih tujuh bulan. Setelah masjid Rasulullah selesai dibangun, beliau pindah ke kamar-kamar yang dibuatkan untuk beliau dan para isteri beliau sekitar masjid. Sejak pindah dari rumah Abu , Rasulullah menjadi tetangga dekat bagi Abu Ayyub. Rasulullah sangat menghargai Abu Ayyub suami isteri sebagai tetangga yang baik.
Abu Ayyub mencintai Rasulullah sepenuh hati. Sebaliknya beliau mencintainya pula, sehingga mereka saling membantu setiap kesusahan masing-masing. Rasulullah memandang rumah Abu Ayyub seperti rumah sendiri.
Ibnu ‘Abbas pernah bercerita sebagai berikut:
Pada suatu hari di tengah hari yang amat panas, Abu Bakar pergi ke masjid, lalu bertemu dengan ‘Umar ra.
“Hai, Abu Bakar! Mengapa Anda keluar di saat panas begini?”, tanya Umar.
Jawab Abu Bakar, “Saya lapar!”
Kata ‘Umar, “Demi Allah! Saya juga lapar.”
Ketika mereka sedang berbincang begitu, tiba-tiba Rasuluflah rnuncul.
Tanya Rasulullah, “Hendak kemana kalian di saat panas begini?”
Jawab mereka, ‘Demi Allah! Kami rnencarj makanan karena lapar.”
Kata Rasulullah, ‘Demi Allah yang jiwaku di tangan Nya! Saya juga lapar. Nah! Marilah ikut saya.”
Mereka bertiga berjalan bersama-sama ke rumah Abu Ayyub Al Anshary. Biasanya Abu Ayyub selalu menyediakan makanan setiap hari untuk Rasulullab. Bila beliau terlambat atau tidak datang, makanan itu dihabiskan oleh keluarga Abu Ayyub. Setelah mereka tiba di pintu, Ibu Ayyub keluar menyongsonu mereka.
‘Selamat datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan!” kata Ibu Ayyub.
“Kemana Abu Ayyub?” tanya Rasulullah.
Ketika itu Abu Ayyub sedang bekerja di kebun kurrna dekat rumah. Mendengar suara Rasulullah, dia bergegas rnenemui beliau.
“Selamat datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan!” kata Abu Ayyub.
Abu Ayyub langsung menyambung bicaranya, “Ya, Nabiyallah! Tidak biasanya Anda datang pada waktu sepert sekarang.
Jawab Rasulullah “Betul. hai Abu Ayyub!
Abu Ayyub pergi ke kebun, lalu dipotongnya setandan kurma. Dalam setandan itu terdapat kurma yang sudah kering, yang basah, dan yang setengah masak.
Kata Rasulullah, “Saya tidak menghendaki engkau memotong kurma setandan begini. Alangkah baiknya jika engkau petik saja yang sudah kering.”
Jawab Abu Ayyub, “Ya, Rasulullah! Saya senang jika Anda suka mencicipi buah kering, yang basah, dan yang setengah masak. Sementara itu saya sembelih kambing un tuk.Anda bertiga.”
Kata Rasulullah, “Jika engkau menyembelih, jangan disembelih kambing yang sedang menyusui.”
“Abu Ayyub menangkap seekor kambing, lalu disembelihnya. Dia berkata kepada Ibu Ayyub, “Buat adonan roti. Engkau lebih pintar membuat roti.”
Abu Ayyub membagi dua sembelihannya. Separuh digulainya dan separuh lagi dipanggangnya Setelah masak, maka dihidangkannya ke hadapan Rasulullah dan sahabat beliau. Rasulullah mengambil sepotong gulai kambing, kemudian diletakkannya di atas sebuah roti yang belum dipotong.
Kata beliau, “Hai Abu Ayyub! Tolong antarkan ini kepada Fatimah. Sudah beberapa hari ini dia tidak mendapat makanan seperti ini.”
Selesai makan, Rasulullah berkata, “Roti, daging, kurma kering, kurma basah, dan kurma setengah masak.”— Air mata beliau mengalir ke pipinya.
Kemudian beliau bersabda ‘Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya! SesungguhnYa beginilah ni’mat yang kalian minta nanti di hari kiamat. Maka apabila kalian memperoleh yang seperti in bacalah “Basmalah” lebih dahulu sebelum kalian makan. Bila sudah kenyang, baca tahmid: “Segala puji bagi Allah yang telah mengenyang kan kami dan memberi kami ni’mat.”
Kemudian Rasulullah saw. bangkit hendak pulang. Beliau berkata kepada Abu Ayyub, ‘Datanglah besok ke rumah kami!”
Sudah menjadi kebiasaan bagi Rasulullah, apabila Seseorang berbuat baik kepadanya, beliau segera membalas dengan yang lebih baik. Tetapi Abu Ayyub tidak mendengar perkataan Rasulullah kepadanya. Lalu dikata oleh ‘Umar, “Rasulullah menyuruh Anda datang besok ke rumahnya.”
Kata Abu Ayyub, “Ya, saya patuhi setiap perintah Rasulullah.”
Keesokan harinya Abu Ayyub datang ke rumah Ra sulullah. Beliau memberi Abu Ayyub seorang gadis kecil untuk pembantu rumah tangga. Kata Rasulullah, ‘Perla kukanlah anak ini dengan baik, hai Abu Ayyub! Selama dia di tangan kami, saya lihat anak ini baik.”
Abu Ayyub pulang ke rumahnya membawa seorang gadis kecil.
“Untuk siapa ini, Pak Ayyub?” tanya Ibu Ayyub.
“Untuk kita. Anak kita diberikan Rasulullah kepada kita,”jawab Abu Ayyub.
“Hargailah pemberian Rasulullah. Perlakukan anak ini lebih daripada sekedar suatu pemberian’ “ kata Ibu Ayyub.
“Memang! Rasulullah berpesan supaya kita bersikap baik terhadap anak ini,” kata Abu Ayyub. “Bagaimana selayaknya sikap kita terhadap anak ini, supaya pesan beliau terlaksana?” tanya Ibu Ayyub.
“Derni Allah! Saya tidak rnelihat sikap yang lebih baik, melainkan memerdekakannya,” jawab Abu Ayyub.
“Kakanda benar-benar mendapat hidayah Allah. Jika kakanda setuju begitu, baiklah kita merdekakan dia,” kata Ibu Ayyub menyetujui.
Lalu gadis kecil itu mereka merdekakan.
ltulah sebagian bentuk nyata celah-celah kehidupan Abu Ayyub setelah dia masuk Islam. Kalau dipaparkan celah-celah kehidupannya dalam peperangan, kita akan tercengang dibuatnya. Sepanjang hayatnya Abu Ayyub hidup dalam peperangan. Sehingga dikatakan orang, “Abu Ayyub tidak pernah absen dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum muslimin sejak masa Rasulullah sampai dia wafat di masa pemerintahan Mu ‘awiyah. Kecuali bila dia sedang bertugas dengan suatu tugas penting yang lain.’’
Peperangan terakhir yang ikutinya, ialah ketika Mu awiyah mengerahkan tentara muslimin merebut kota Konstantinopel. Abu Ayyub seorang prajurit yang patuh dan setia. Ketika itu dia telah berusia lebih delapan puluh tahun. Suatu usia yang boleh dikatakan usia akhir tua. Tetapi usia tidak menghalanginya untuk bergabung dengan tentara muslimin di bawah bendera Yazid bin Mu’awiyah. Dia tidak menolak rnengharufngi laut, membelah ombak untuk berperang fi sabilillah. Tetapi belum berapa lama dia berada di medan tempur menghadapi musuh, Abu Ayyub jatuh sakit. Abu Ayyub terpaksa istirahat di perkemahan, tidak dapat melanjutkan peperangan karena fisiknya sudah lemah.
Ketika Yazid mengunjungi Abu Ayyub yang sakit, panglima ini bertanya, “Adakah sesuatu yang Anda kehendaki, hai Abu Ayyub?”
Jawab Abu Ayyub, ‘Tolong sampaikan salam saya kepada seluruh tentara muslimin. Katakan kepada mereka, Abu Ayyub berpesan supaya kalian semuanya terus maju sampai ke jantung daerah musuh. Bawalah saya beserta kalian. Kalau saya mati, kuburkan saya dekat pilar kota Konstantinopel!”
Tidak lama sesudah ia berkata demikian, Abu Ayyub menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dia wafat menemui Tuhannya di tengah-tengah kancah pertempuran.
Tentara muslimin memperkenankan keinginan sahabat Rasulullah yang mulia ini. Mereka berperang dengan gigih, menghalau musuh dari satu medan ke medan tempur yang lain. Sehingga akhirnya mereka berhasil mencapai pilar-pilar kota Konstantinopel, sambil membawa jenazah Abu Ayyub.
Dekat sebuah pilar kota Konstantinopel niereka menggali kuburuan, lalu mereka makamkan jenazah Abu Ayyub di sana, sesuai dengan pesan Abu Ayyub.
Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Ayyub. Dia tidak ingin mati kecuali dalam barisan termpur yang sedang berperang fi sabiillah. Sedangkan usianya telah mencapai delapan puluh tahun. Radhiyallahu ‘anhu. Amin!!!

Perhubungan Persis Hamba


Sejauh manakah sebuah perhubungan itu dapat terpelihara daripada sebarang noda dan nista ? Persoalan ini seringkali bermain dibenak fikiran masing-masing kerana rutin perjalan seorang hamba berkisar didalam ruang lingkup sebuah rangkaian yang digelarkan sebagai perhubungan samada hubungan dengan ALLAH SWT,hubungan antara makhluq didunia ini mahupun hubungan sesama manusia.
Persoalan ini dirungkaikan tanpa jawapan kerana kita sendiri punya jawapan untuk soalan ini .Tidak perlu menuding jari kepada sesiapa pun sebaliknya hanya memerlukan sebuah muhasabah diri untuk koreksi kembali segala perhubungan dalam pengaplikasian menjana sebuah kehidupan.Jika hubungan dengan ALLAH SWT itu benar diatas dasar keimanan sudah pasti tiada satu halangan yang tidak mampu untuk kita tempuhi namun jika sebaliknya pula .Perlu difikirkan akan kebarangkalian yang pasti akan berlaku .

Jadikan Buah Lemon Itu Minuman yang Manis!





Orang cerdik akan berusaha merubah kerugian menjadi keuntungan.Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk dan berlipat ganda. Ketika Rasulullah s.a.w. diusir dari Makkah, beliau memutuskan untuk menetap di Madinah dan kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah negara yang sangat akrab di telinga dan mata sejarah. Ahmad ibn Hanbal pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu
Taimiyyah pernah di penjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak melahirkan karya. As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid. Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami'ul Ushul dan an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadits. Demikian halnya dengan Ibnul-Jawzy, ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan karena itu
ia menguasai qiraah sab'ah. Malik ibn ar-Raib adalah penderita suatu penyakit yang mematikan, namun ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah dan tak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman Abbasiyah. Lalu, ketika semua anak Abi Dzuaib al-Hudzali mati meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan nyanyiannyanyian puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan saat mendengarnya kembali.
Begitulah, ketika tertimpa suatu musibah, Anda harus melihat sisi yang paling terang darinya. Ketika seseorang memberi Anda segelas air lemon, Anda perlu menambah sesendok gula ke dalamnya. Ketika mendapat hadiah seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian
tubuhnya yang lain. Ketika disengat kala jengking, ketahuilah bahwa sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan pada tubuh Anda dari bahaya bisa ular. Kendalikan diri Anda dalam berbagai kesulitan yang Anda hadapi! Dengan begitu, Anda akan dapat mempersembahkan bunga mawar dan
melati yang harum kepada kami. Dan

{Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.}
Surah Al-Baqarah: 216)

Sebelum terjadi revolusi besar di Perancis, konon negara itu pernah memenjara dua sastrawan terkenalnya. Salah seorang dari keduanya sangat optimistis dan yang seorang lagi pesimistis bahwa revolusi dan perubahan akan segera terjadi. Setiap hari keduanya sama-sama melongokkan kepala
melalui sela-sela jeruji penjara. Hanya saja, sang sastrawan yang optimistis selalu memandang ke atas dan melihat bintang-bintang yang gemerlap di langit. Dan karena itu ia selalu tersenyum cerah. Adapun sastrawan yang pesimistis, ia selalu melihat ke arah bawah dan hanya melihat tanah hitam di depan penjara, dan kemudian menangis sedih.Begitulah, sebaiknya Anda selalu melihat sisi lain dari kesedihan itu.Sebab, belum tentu semuanya menyedihkan, pasti ada kebaikan, secerah harapan, jalan keluar serta pahala.
[ Dr Aid Qarni-La Tahzan ]

Dilema Sebuah Tanggungjawab


Sesungguhnya setiap insan tidak dapat lari daripada memikul sebuah tanggungjawab namun begitu kayu ukur sebuah tanggungjawab itu bukan terletak kepada apa yang perlu dipertanggungjawabkan kepadanya namun keikhlasan dalam melaksanakan tanggungjawab tersebut dan perlaksanaan tanggungjawab tersebut tanpa sebarang rungutan apatah lagi mengharapkan imbalan.Manusia adakalanya leka dengan pelbagai tanggungjawab yang telah diamanahkan sebaliknya hanya bermegah dengan apa yang dipertanggungjawabkan tanpa memikirkan apakah segala yang telah dipertanggungjawabkan ke atasnya tidak akan disoal.
Dewasa kini,manusia gemar untuk membolot segala yang ingin dimiliki biarpun terpaksa menindas bangsa dan agama sendiri ,untuk apakah mereka terlalu ampuh mengejar semua ini hanya berpaksikan kepada satu motif dan tujuan iaitu memuakan tuntutan hawa nafsu .Apakah segelintir umat Islam yang diberikan secubit kesedaran akan hal ini akan berterusan melihat dan hanya mempu berpeluk tubuh tanpa melakukan apa-apa walaupun bergerak setapak mara ke hadapan.
Dimanakah perginya suara-suara yang seringkali melaungkan takbir dan tahmid disaat Islam dijulang tinggi dan dimanakah pula pembawa panji-panji Islam yang mengalir dalam tubuhnya semangat untuk mempertahankan Islam.Manusia kini terus dibelenggu dilemma dalam melaksanakan tanggungjawab akhirnya dikaburi sendiri oleh dunia yang tidak sesekali puas untuk meratahnya .Gejolak syahwat dalam mencipta kesempuraan akhirnya telah memakan diri sendiri lantas tersungkur rebah di atas tanah yang pernah dipijak oleh mereka satu ketika dahulu.
Kebejatan paradigm masyarakat kini seringkali dilingkari dengan kemewahan dan kesenangan membuatkan mereka asyik seterusnya melupakan sebuah kehidupan yang bakal menanti iaitu akhirat.Dilema sebuah tanggungjawab ini seharusnya perlu ditimbang-tara oleh masyarakat manusia agar setiap perkara yang ingin dilaksanakan tidak tersasar daripada landasan Iman & Islam.